Bismillahirrahmanirrahim…
Coretan 25/3/209
Ingin berkongsi lagi. Kali ini saya ingin mengupas tentang apa yang saya peroleh dalam usrah saya tadi. Saya rasa sedikit terkilan tentang sesuatu. Ya, sekali lagi tentang ilmu. Hari ini kami bercerita soal puasa, ibadah haji dan juga lidah. Sebut mengenai lidah, seorang sahabat mengesyorkan untuk kita mengamalkan zikir mengikut hari seperti yang kita selalu dengar. Sebagai contoh, setiap hari Jumaat, kita mengamalkan zikir ini…. Hari Sabtu kita mengamalkan zikir itu… Alhamdulillah, baguslah ada yang mengingatkan supaya kita membanyakkan berzikir.
Dalam pada itu, timbul persoalan di benak yang selalu ingin mendalami ilmu yang diterima. Baik atau buruk suatu ilmu yang kita peroleh, ianya perlu juga diselidiki sumbernya. Ini berguna untuk kita dalam pembaikan amal. Bukan niat untuk meletakkan ianya haram atau tidak untuk diamalkan. Jelas mengajak kepada berzikir itu bukan sesuatu yang buruk. Tapi apa salahnya jika diri yang kurang ilmu ini ingin mengetahui lebih jelas tentang sumber anjuran zikir sebegitu. Siapa tahu, suatu hari apabila kita syorkan amalan itu kepada sahabat lain, sahabat tersebut bertanya samada ia anjuran Rasulullah, para salafussoleh ataupun para ulama’ yang kita sanjungi. Apa kita nak jawab masa itu? Ingat, kita bersedia untuk digelar da’ie, jadi seharusnya kita juga bersedia untuk menambah baik amal dan pengetahuan kita. Seperti peringatan yang Allah sajikan di dalam al- Quranul Karim:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,…” (Al- Mulk : 2)
Lagi menyedihkan apabila soalan ditujukan kepada pengesyor untuk mengamalkan zikir harian tersebut, sahabat dibelakang mula berbisik seperti ini,
“Buat apa nak tanya soalan macam tu? Suka rumitkan sesuatu. Padahal ni hal zikir jer..”
Betapa terasanya diri yang kurang ilmu ini. Seperti soalan itu sangat- sangat tidak berguna. Tidak kurang juga yang mengeluarkan kata- kata seperti,
“Imam Malik r.a berkata barangsiapa yang cepat mengharamkan sesuatu, maka tempatnya adalah di neraka.” (klu silap tolong betulkan)
Kenapa la sahabat- sahabat saya menganggap diri ini ingin membantahkan dan mengatakan zikir yang disyorkan itu salah dan haram. Tidak sahabatku.. saya hanya ingin tahu, ingin tahu. Andai saya temui jawapannya dimana sumber tersebut, saya gembira menerimanya. Andai saya tidak temuinya, saya akan bersabar dan redha…
Islam itu mudah, tapi bukan untuk dimudah- mudahkan atau disusah- susahkan.
Sekadar membiarkan hati bersuara…
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya. Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, pasti Allah memudahkan baginya jalan ke surga. Apabila berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur’an secara bergantian dan mempelajarinya, niscaya mereka akan diliputi sakinah (ketenangan), diliputi rahmat, dan dinaungi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalannya, maka tidak akan dipercepat kenaikan derajatnya”. (Lafazh riwayat Muslim) [Muslim no. 2699]
Wallahu’alam..






